Malam itu gue lagi rebahan di kasur kos, scroll HP nggak jelas, tiba-tiba ada notifikasi WhatsApp dari ibu: "Adikmu nanya terus, kapan kakak pulang." Gue diem sebentar. Bukan karena nggak mau pulang, tapi karena gue sadar udah tiga minggu nggak telepon, cuma chat "udah makan?" yang dibalas stiker. Padahal adik gue masih SMP, masih butuh kakak yang bisa diajak cerita soal guru galak atau temen yang tiba-tiba ngejauhin dia.
Kalau kamu mahasiswa perantau, mungkin ini juga kejadian ke kamu. Kita pindah ke kota lain buat kuliah, dan pelan-pelan peran kita di rumah berubah. Dulu kita yang nemenin adik belajar, sekarang kita cuma jadi nama di grup keluarga yang paling jarang muncul. Bukan karena nggak sayang, tapi karena hidup di perantauan itu ribet: tugas numpuk, uang bulanan mepet, dan waktu terasa selalu kurang.
Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Adik di rumah itu nggak cuma butuh kakak yang ngirim uang jajan atau nitip oleh-oleh pas mudik. Mereka butuh kakak yang hadir, walau cuma lewat suara di telepon.
Kenapa Jarak Fisik Bikin Kita Pelan-pelan Jauh
Gue pernah baca cerita temen kos, sebut aja Dita. Dia anak pertama, adiknya masih SD. Selama setahun pertama kuliah, Dita sibuk banget. Dia jarang telepon, karena mikirnya "adik masih kecil, nggak ngerti apa-apa." Ternyata pas dia pulang Lebaran, adiknya nggak mau deket-deket. Bukan karena marah, tapi karena udah nggak terbiasa. Dita ngerasa kayak jadi orang asing di rumah sendiri.
Baca juga: Aturan Lalu Lintas di Persimpangan: Kunci Berkendara Aman
Itu yang bikin gue ngeri. Jarak fisik itu bukan masalah utama. Masalahnya adalah jarak yang kita biarin tumbuh pelan-pelan tanpa sadar. Setiap hari kita tunda telepon, setiap minggu kita tunda video call, sampai akhirnya kita nggak tahu lagi apa yang lagi adik kita suka, siapa temen deketnya, atau kenapa dia tiba-tiba diem.
Padahal, peran kakak itu penting banget dalam pengasuhan di keluarga. Orang tua mungkin sibuk kerja, atau nggak selalu bisa jadi tempat cerita yang nyaman buat anak. Di situ kakak bisa jadi jembatan. Adik kadang lebih nyaman cerita ke kakak daripada ke orang tua, karena kakak dianggap lebih "ngerti" dunia mereka.
Yang bikin adik jauh bukan jarak kota, tapi kebiasaan kita yang selalu bilang "nanti aja teleponnya."
Hal Kecil yang Bisa Kamu Mulai Minggu Ini
Nggak perlu nunggu pulang kampung buat tetap dekat sama adik. Gue udah coba beberapa hal ini dan lumayan ngefek. Kamu bisa pilih yang paling masuk sama jadwal kamu.
1. Bikin jadwal telepon yang realistis, bukan yang muluk-muluk
Dulu gue sempet bikin target "telepon tiap hari." Hasilnya? Gagal total, dan malah bikin gue ngerasa bersalah. Sekarang gue ubah: minimal dua kali seminggu, biasanya Minggu malam dan Rabu sore. Nggak lama-lama, cukup 10-15 menit. Yang penting rutin, bukan durasinya. Adik jadi tahu kapan bisa cerita, dan gue juga nggak ngerasa kebebanan.
2. Tanya hal spesifik, bukan cuma "gimana sekolah?"
Pertanyaan umum kayak "gimana sekolah?" biasanya dibalas "baik" atau "biasa aja." Coba tanya yang lebih spesifik: "Tadi ulangan apa?", "Ada yang bikin kesel hari ini nggak?", atau "Kemarin kamu bilang mau ikut lomba, gimana hasilnya?" Adik bakal ngerasa kamu beneran dengerin, bukan cuma formalitas nanya.
3. Jadi tempat curhat yang nggak menghakimi
Ini yang paling susah buat gue. Kadang gue pengen langsung ngasih solusi atau malah ikut marah kalau adik cerita ada masalah. Padahal yang dia butuh pertama kali cuma didengerin. Coba deh tahan diri dulu, dengerin sampai habis, baru tanya "kamu maunya gimana?" Kadang adik cuma butuh tahu bahwa ada kakak yang ada buat dia, bukan hakim yang langsung ngasih vonis.
Jangan Lupa, Orang Tua Juga Butuh Kabar
Ini agak keluar dari topik adik, tapi penting. Waktu kita sibuk ngurus adik, kadang kita lupa orang tua di rumah juga nunggu kabar. Mereka mungkin nggak bilang, tapi pasti nanya-nanya ke adik soal kita. Coba sesekali telepon orang tua juga, cerita hal receh kayak makan apa hari ini atau kosan lagi bocor. Nggak perlu berat, yang penting mereka tahu kita baik-baik aja.
Gue inget waktu ibu bilang, "Kakak kalau telepon adik, ibu ikut dengerin dari jauh." Rasanya campur aduk. Seneng karena ibu ngerasa terhubung, sedih karena ternyata ibu juga pengen denger suara gue tapi nggak mau ganggu.
Pulang Itu Penting, Tapi Hadir Itu Lebih Penting
Nggak ada yang bilang jadi mahasiswa perantau itu gampang. Kita harus bagi waktu antara kuliah, organisasi, kerja sampingan, dan kehidupan sosial. Tapi hubungan sama keluarga, termasuk sama adik, itu bukan sesuatu yang bisa ditunda sampai kita "udah senggang." Karena biasanya, waktu senggang itu nggak pernah beneran datang.
Mulai dari hal kecil aja. Malam ini, sebelum tidur, coba kirim voice note ke adik kamu. Nggak usah panjang, cukup bilang "kak lagi di kos, kangen deh. Kamu gimana?" Terus dengerin balasannya. Siapa tahu, dari situ kamu nemu lagi alasan kenapa hubungan kakak-adik itu layak dijaga, walau jarak kota memisahkan.
Karena pada akhirnya, adik kita di rumah nggak butuh kakak yang sempurna. Mereka cuma butuh kakak yang masih inget sama mereka, walau lagi jauh.