Rabu, 4 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
mainhahanhphuc.commainhahanhphuc.com
mainhahanhphuc.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Bandara Aku Belajar Jadi Ayah, Bukan Cuma Pembe...

Di Bandara Aku Belajar Jadi Ayah, Bukan Cuma Pemberi Oleh-Oleh

Sering bepergian bukan alasan anak jadi jauh. Justru dari perjalanan, kita belajar cara hadir yang jarang dibahas orang.

Di Bandara Aku Belajar Jadi Ayah, Bukan Cuma Pemberi Oleh-Oleh

Gue sering banget ketemu pemandangan ini di bandara: seorang bapak buru-buru beli oleh-oleh di toko terakhir sebelum boarding, mukanya panik, sambil nelpon "Nak, mau apa? Cepat ya, ayah udah mau masuk." Dan gue selalu mikir, dulu gue juga begitu. Oleh-oleh jadi semacam obat penebus dosa karena udah ninggalin anak seminggu.

Padahal, yang anak kamu butuh bukan kaos gambar monyet dari Bali. Yang dia butuh itu kamu.

Baca juga: Anak Banyak Gizi Cukup: Cara Hemat Keluarga di Kampung

Oleh-oleh itu cuma plester, bukan obat

Ini yang jarang dibahas orang. Kita para orang tua yang sering dinas atau sering jalan ini punya satu kebiasaan aneh: kita mengira benda bisa menggantikan waktu. Kita beli mainan, kita beli camilan khas kota, kita beli apa pun yang bisa dibawa pulang — seolah dengan begitu, rasa bersalah kita lunas.

Gue pernah di fase itu. Setiap pulang dari luar kota, tas gue isinya selalu ada sesuatu buat anak. Boneka, buku, sampai kaus kaki karakter kartun. Dan setiap kali juga, anak gue seneng — tapi cuma lima menit. Setelah itu dia balik main HP dan gue balik jadi orang asing di rumah sendiri.

Sakit, kan? Ngeliat anak seneng sama barang tapi nggak nyambung sama kita.

Yang gue pelajari kemudian: oleh-oleh itu fungsinya kayak plester. Nutup luka kecil, kelihatan rapi. Tapi kalau lukanya dalam — rasa "ayahku nggak ada" — plester nggak bakal nyembuhin apa-apa. Yang nyembuhin cuma kehadiran, sekecil apa pun bentuknya.

Hal yang nggak pernah diajarin di seminar parenting

Semua orang ngomong soal quality time. Tapi hampir nggak ada yang ngomong soal satu hal ini: anak itu butuh rutinitas, bukan momen besar.

Ini yang gue sadar belakangan. Anak nggak inget liburan mewah ke Dufan. Yang dia inget itu siapa yang nemenin dia sarapan, siapa yang nanya "tadi di sekolah gimana?" setiap hari, siapa yang suaranya dia dengar tiap malam sebelum tidur. Kecil-kecil, membosankan, tapi itulah yang nempel.

Dan buat kita yang sering di luar kota, rutinitas ini justru lebih penting daripada buat orang tua yang tiap hari di rumah. Kenapa? Karena kita nggak punya kemewahan "ketemu otomatis". Kita harus bikin kehadiran itu dengan sengaja.

Yang gue lakuin sekarang, sesederhana ini:

  • Video call jam yang sama tiap hari. Nggak harus lama, 10 menit cukup. Yang penting konsisten. Anak jadi tahu "oh jam 7 ayah nelpon", dan itu jadi jangkar harinya.
  • Nanya hal spesifik, bukan "gimana sekolah?". Pertanyaan umum dijawab "baik" terus. Coba "tadi makan siangnya sama siapa?" atau "pelajaran apa yang paling bikin pusing hari ini?". Baru cerita keluar.
  • Bawa pulang cerita, bukan cuma barang. Gue sekarang lebih sering cerita soal orang yang gue temuin di pesawat, makanan aneh yang gue coba, atau kekonyolan gue kehilangan koper. Anak lebih suka dengerin itu daripada dapet gantungan kunci.
  • Libatin anak di perjalanan. Kadang gue kirim foto lokasi, minta dia tebak gue di kota apa. Atau gue tanya "menurut kamu ayah harus bawa oleh-oleh apa buat ibu?". Dia jadi merasa ikut, bukan ditinggal.

Nggak ada yang mahal dari daftar di atas. Nggak ada yang perlu beli tiket. Tapi efeknya beda banget sama oleh-oleh.

"Anak nggak butuh ayah yang sempurna. Dia butuh ayah yang bisa diandalkan kehadirannya, walau cuma lewat layar."

Saat gue akhirnya berhenti pura-pura kuat

Ada satu hal lagi yang jarang dibahas, dan ini mungkin yang paling penting: anak itu bisa baca kalau kita capek.

Dulu, setiap pulang dinas, gue selalu berusaha tampil semangat. Nanya ini-itu, ngajak main, pura-pura fresh padahal badan remuk. Dan anak gue — yang waktu itu masih SD — suatu hari bilang gini: "Ayah, kalau capek tidur aja, nggak usah main sama aku."

Gue kaget. Ternyata selama ini dia ngerasa gue maksa. Dia ngerasa jadi beban. Padahal niat gue baik.

Sejak itu gue berubah. Kalau capek, gue bilang capek. "Yah, hari ini ayah capek banget. Kita duduk bareng aja ya, kamu cerita, ayah dengerin." Dan ternyata... anak gue justru lebih terbuka. Karena dia nggak ngerasa harus menghibur gue. Dia ngerasa aman.

Kejujuran kecil kayak gini yang bikin hubungan kita nyambung. Bukan mainan, bukan liburan, bukan oleh-oleh.

Buat kamu yang besok harus terbang lagi

Gue nggak bakal bilang "kurangi perjalanan dinas" karena buat banyak orang, itu nggak realistis. Kadang kita nggak punya pilihan. Yang bisa kita pilih adalah cara kita pergi dan cara kita pulang.

Sebelum berangkat, bilang ke anak mau ke mana dan kapan balik. Pas di jalan, telepon walau cuma 5 menit. Pas pulang, jangan langsung rebahan — duduk dulu 15 menit, dengerin ceritanya, baru istirahat. Dan kalau punya energi lebih, ajak dia ikut hal kecil yang kamu lakuin, kayak belanja atau cuci mobil. Buat anak, ikut ayah belanja itu udah kayak jalan-jalan.

Yang paling penting: berhenti ngukur kasih sayang pakai harga barang. Kasih sayang itu diukur dari seberapa sering anak merasa dilihat. Dan itu bisa kamu kasih dari mana aja — dari bandara, dari hotel, dari kamar kos, dari mana pun kamu berada malam ini.

Jadi besok kalau kamu udah di toko oleh-oleh lagi, tanya ke diri sendiri dulu: ini buat anak, atau buat nenangin rasa bersalah gue? Kalau jawabannya yang kedua, taruh lagi barangnya. Telepon anak kamu aja. Itu jauh lebih mahal harganya.

Tags: parenting jarak jauh orang tua sering dinas hubungan ayah anak quality time keluarga komunikasi keluarga