Jumat, 30 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
mainhahanhphuc.commainhahanhphuc.com
mainhahanhphuc.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Aku Sempat Jadi Ibu yang Cuma Ada Badannya, Bukan ...

Aku Sempat Jadi Ibu yang Cuma Ada Badannya, Bukan Hatinya

Cerita jujur soal jadi ibu yang hadir secara fisik tapi sibuk di kepala sendiri, plus cara praktis balik lagi ke anak.

Aku Sempat Jadi Ibu yang Cuma Ada Badannya, Bukan Hatinya

Ada satu malam yang nggak bakal aku lupa. Anakku yang kedua, umur empat tahun, lagi duduk di lantai ruang tamu, nyusun balok warna-warni. Dia manggil-manggil, "Bun, liat deh, tinggi banget!" Aku jawab, "Iya, sayang," sambil mata nggak lepas dari layar HP — lagi hitung belanja bulanan, sambil mikirin besok mau masak apa, sambil setengah hati dengerin dia.

Dia manggil lagi. Aku jawab lagi dengan kalimat yang sama. Sampai yang ketiga kali, dia diam. Nggak manggil lagi. Cuma nyusun baloknya sendiri, terus dirobohin, terus nyusun lagi, sendirian.

Dan aku baru sadar, aku ada di ruangan yang sama, tapi nggak benar-benar ada buat dia.

Fisiknya di Rumah, Kepalanya di Mana-Mana

Aku ibu rumah tangga. Kalau ditanya orang, jawabannya selalu, "Ya, aku di rumah, ngurus anak." Kelihatannya simpel. Tapi jadi ibu di rumah itu bukan berarti otomatis hadir, lho. Badan bisa di dapur, tangan bisa nyuci piring, mulut bisa jawab "iya" — tapi isi kepala jalan ke mana-mana.

Baca juga: Aturan Lalu Lintas di Persimpangan: Kunci Berkendara Aman

Mikirin uang belanja. Mikirin tugas sekolah anak pertama. Mikirin omongan mertua kemarin. Mikirin grup WA yang nggak ada habisnya. Mikirin badan yang pegel tapi nggak sempat istirahat.

Anak-anak nggak ngerti semua itu. Yang mereka tahu cuma satu: bunda ada, tapi kok kayak nggak dengerin aku?

"Anak itu nggak butuh ibu yang sempurna. Mereka butuh ibu yang benar-benar lihat mereka."

Aku pernah baca sesuatu yang nyantol banget: anak-anak lebih mudah sembuh dari ibu yang sesekali marah, daripada dari ibu yang selalu ada tapi hatinya nggak pernah nyampe ke mereka. Marah itu kelihatan. Ketidakhadiran yang halus — itu yang nggak kelihatan, tapi kerasa.

Yang Bikin Aku Sadar: Bukan dari Buku, tapi dari Anak Sendiri

Beberapa hari setelah kejadian balok itu, anakku yang pertama, umur tujuh, bikin gambar keluarga. Ada ayah, ada dia, ada adiknya, ada aku. Tapi aku digambar di pojok, kecil, lagi pegang HP.

Aku ketawa dulu. Terus diam. Terus rasanya kayak ditonjok halus.

Dia nggak ngomong apa-apa. Dia cuma gambar apa yang dia lihat tiap hari. Dan itu versi aku di matanya: ibu yang pegang HP.

Dari situ aku mulai mikir ulang. Bukan mikir mau berhenti pegang HP — itu nggak realistis, semua urusan rumah sekarang lewat HP. Tapi mikir soal kapan aku pegang HP dan kapan aku benar-benar ada buat anak-anak.

Yang Aku Coba di Rumah, Sederhana Tapi Ngaruh

Aku nggak bikin perubahan besar. Nggak ada revolusi parenting segala macam. Aku cuma ngubah beberapa hal kecil yang ternyata efeknya kerasa banget. Ini yang aku lakuin:

1. HP "parkir" di satu tempat

Aku taruh HP di meja dekat colokan, bukan di kantong, bukan di tangan. Jadi kalau mau ngecek, aku harus jalan dulu. Kadang malah jadi males ngecek karena jauh. Lumayan, satu langkah kecil yang nyelametin banyak momen.

2. Sepuluh menit "beneran ada"

Aku pilih satu waktu tiap hari — biasanya setelah mandi sore — buat duduk bareng anak-anak tanpa HP, tanpa mikirin kerjaan rumah. Cuma dengerin cerita sekolah, ikut nyusun balok, atau baca buku bareng. Sepuluh menit doang. Tapi sepuluh menit yang penuh, bukan sepuluh menit yang setengah-setengah.

Awalnya canggung. Aku udah kebiasa multitasking, jadi duduk diam tanpa HP itu rasanya aneh. Tapi anak-anak langsung nyambung. Mereka kayak nungguin momen itu.

3. Jawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan balik

Dulu kalau anak nanya, aku jawab seadanya sambil lalu. Sekarang aku coba balik nanya, "Menurut kamu kenapa?" atau "Terus gimana rasanya?" Nggak selalu berhasil, kadang aku lagi capek dan jawabannya tetap seadanya. Tapi makin sering dicoba, makin kerasa anak-anak jadi lebih terbuka.

Hubungan Keluarga Itu Soal Kehadiran, Bukan Kesempurnaan

Aku nggak mau pura-pura jadi ibu yang selalu sabar, selalu fokus, selalu ada. Itu bohong. Ada hari-hari di mana aku tetap sibuk di kepala sendiri, tetap jawab "iya" tanpa dengerin, tetap gambar kecil di pojok dengan HP di tangan.

Tapi sekarang aku tahu bedanya. Dan tahu bedanya itu udah setengah jalan.

Anak-anak nggak butuh ibu yang nggak pernah salah. Mereka butuh ibu yang mau balik lagi setelah sadar salah. Yang mau taruh HP sebentar, duduk di lantai, dan bilang, "Coba cerita lagi, Bun dengerin."

Kalau kamu juga pernah ngerasa kayak aku — ada di rumah tapi nggak benar-benar ada — kamu nggak sendirian. Nggak perlu berubah jadi ibu super. Cukup mulai dari sepuluh menit hari ini. Taruh HP-nya dulu. Anakmu udah nungguin, mungkin udah dari tadi.

Tags: parenting ibu rumah tangga hubungan keluarga mengasuh anak quality time